Kamis, 17 September 2015

EVELINE LYNE 

Pengarang : Resi Dwi Ayu Febrianti Sam
SMAN 13 Garut , XII.MIA-4






"Tak pernah ada yang tahu siapa aku sebenarnya , aku hanya ingin kalian mengetahui yang sebenarnya dariku cukup itu. Bertahun - tahun lamanya aku memendam semua ini , hingga kau temukanku . Tolong beritahukan pada mereka."
---
1999


Juni 
" Eveline Lyne..." Gumamnya , wanita dihadapanku terlihat mengernyitkan dahinya. "Benar" Balasku . Ini takkan semudah ketika kau menyelesaikan sebuah masalah . Tentu , semua memiliki keraguan yang mendasar ketika melihat keadaanku saat ini . Umurku 9 tahun dan aku tahu segalanya. Saat ini dan di detik ini aku tahu wanita dihadapanku dengan rasa ibanya akan menerimaku dalam asramanya . Jauh sebelumnya aku pergi hanya membawa secarik kertas pemberian mendiang ayahku , kertas lusuh yang sudah tak serapih dulu , kertas yang bertuliskan namaku . Hanya itu . "Tanpa keterangan lain ?" Tanyanya kemudian, meretas kesunyian yang sedari tadi menyelimuti kami ."Tidak, hanya itu"



 "Lalu ... dimana orang tuamu?" Lanjutnya , "Ayahku sudah tiada dan aku tidak tau dimana ibuku" Balasku. Sejak itu aku mulai tahu bahwa aku hidup bukan untuk orang lain , dan aku bertahan hidup bukan untuk mereka . Aku , ya aku... Hanya aku bukan untuk siapapun , terkadang 'yang terdekat  yang menikam' .





Agustus

Aku menciumnya lagi , aroma itu . Busuk sangat busuk . Kuperkirakan sudah tidak segar lagi . Ku susuri lorong asrama dini hari ini , rasa penasaran itu justru timbul kembali ketika aku tahu Damian jarang mem-bully-ku kembali akhir - akhir ini . Ya , Damian . Dia adalah seorang yang paling menjengkelkan yang pernah kutemui selama aku tinggal di asrama, dia adalah satu-satunya yang sering mengejekku dengan perkataannya yang tidak berperikemanusiaan . Maka wajar jika kini aroma busuk tubuhnya yang menjalar ini tercium , aku fikir ini adalah balasan yang paling pantas untuknya. "Hmm..." Tak perlu banyak tindakan dia akhirnya meninggalkan kami semua. 


Pagi harinya Nyonya Yan memanggilku keruangannya , aku sudah tahu maka dari itu aku sudah mempersiapkan diriku sedari tadi , Cklek ku kunci pintu kamarku rapat tak membiarkan siapapun masuk kedalamnya tanpa seizinku . Santai saja , aku berjalan begitu santai seolah tidak pernah terjadi apapun disini , meskipun kini semua mata memandangku tajam . Sayup-sayup aku mendengar "Eve membunuhnya!!" Dan itu membuat desir darahku naik ke atas kepalaku , "Urusi saja urusanmu , setelah itu baru kau urusi hidupku!!" Gumamku dalam hati dan kuperkirakan hanya ada aku dan tuhan yang mendengar.

Tok...tok...

Kubuka pintu ruangan Nyonya Yan perlahan , membiarkan yang lain melihatku . Hening tercipta , tak kuhiraukan kemudian kududukkan tubuhku di sebuah kursi yang berada dihadapan Nyonya Yan . "Eve..." Panggilnya lembut , "Ya Nyonya Yan ?" , "Damian telah terbunuh dan beberapa anak melihatmu ditempat kejadian sekitar pukul 2 pagi" Lanjutnya kembali , " Ya , aku mencium bau busuk kemudian aku mencarinya dan aku menemukannya " Balasku seadanya , kulihat raut wajah Nyonya Yan berubah pucat ketakutan dan aku membenci itu . "Damian meninggal dengan kepala yang tertanam didalam tanah" Ucapnya lirih , " Aku tahu " ,


"Dan Eve... Sehari sebelum Damian meninggal dia bersamamu di taman belakang ketika kalian ditugaskan menanam pohon olehku" Lanjutnya . "Apa kau menuduhku membunuhnya?" Tanyaku akhirnya , dia mengangguk dengan wajah pucatnya "Setidaknya ini kasus yang kedua , dan kau ada saat itu..." ," Aku memang tidak menyukai Damian" Potongku , "Mengapa?" , "Karena aku membencinya , setiap orang yang kubenci akan mendapatkan pelajarannya . Tapi , bukan aku pelakunya" Tegasku . Nyonya Yan tampak berfikir , "Aku tahu, anak berusia 9 tahun tidak mungkin melakukan hal semacam ini" Ucapnya "Tapi... Anak 9 tahun cukup matang untuk berbohong mengenai sesuatu hal" Lanjutnya lagi.








P.S : Jangan berfikir cerita diatas hasil Copy-Paste dari sumber lain , cerita diatas fiktif dan murni hasil karangan Resi . Semoga bermanfaat dan mohon kritik juga sarannya . Terimakasih .

Minggu, 23 Agustus 2015


 http://statik.inilahgarut.com/2012/03/logo-pemda-garut.jpg

 NAHA GARUT DISEBAT 'GARUT' ?




http://img.lensaindonesia.com/thumb/350-630-1/uploads--1--2015--05--77862-bupati-garut-rudy-gunawan-ada-dugaan-korupsi-mamin-rp-1-miliar-ini-komentar.jpg Bupati Adiwijaya (1813-1831) membentuk panitia survei lokasi untuk ibukota kabupaten yang baru. Pilihan akhirnya jatuh di tempat yang dikelilingi gunung dan memiliki mata air yang mengalir ke Ci Manuk. Tempat tersebut berjarak ± 17 km dari pusat kota lama. Saat menemukan mata air, seorang panitia kakarut (bahasa sunda: tergores) belukar. Orang Belanda yang ikut survei tak dapat menirukan kata tadi, dan menyebutnya gagarut. Pada awalnya, nama kabupaten yang ibukotanya telah dipindahkan tidak akan diubah, masih Kabupaten Limbangan. Namun, atas saran sesepuh hendaknya nama kabupaten diganti dengan nama baru sehingga tidak menimbulkan bencana dan malapetaka dikemudian hari seperti yang sering menimpa kabupaten Limbangan. Dari kejadian kakarut tersebut, yang dilafalkan oleh orang Belanda dengan gagarut, muncullah nama kebupaten baru, Garut. Hari jadi Garut diperingati setiap tanggal 16 Februari.Sejarah Garut tak bisa dilepaskan dari Kabupaten Limbangan. Kabupaten Limbangan adalah Kabupaten lama yang ibukotanya dipindahkan ke Garut kini karena seringkali terjadi bencana alam berupa banjir yang melanda daerah ibukota. Selain itu, kurang berkembangnya pusat pemerintahan karena jauh dari sungai yang menjadi sarana transportasi dan irigasi areal pesawahan dan perkebunan.

 https://agenslimmingcapsuledigarutt.files.wordpress.com/2015/05/kota-garut.jpg

Minggu, 09 Agustus 2015

OSH94BBH04