Jumat, 04 Desember 2015
Kamis, 17 September 2015
EVELINE LYNE
Pengarang : Resi Dwi Ayu Febrianti Sam
SMAN 13 Garut , XII.MIA-4
"Tak pernah ada yang tahu siapa aku sebenarnya , aku hanya ingin kalian mengetahui yang sebenarnya dariku cukup itu. Bertahun - tahun lamanya aku memendam semua ini , hingga kau temukanku . Tolong beritahukan pada mereka."
---
1999
Juni
" Eveline Lyne..." Gumamnya , wanita dihadapanku terlihat mengernyitkan dahinya. "Benar" Balasku . Ini takkan semudah ketika kau menyelesaikan sebuah masalah . Tentu , semua memiliki keraguan yang mendasar ketika melihat keadaanku saat ini . Umurku 9 tahun dan aku tahu segalanya. Saat ini dan di detik ini aku tahu wanita dihadapanku dengan rasa ibanya akan menerimaku dalam asramanya . Jauh sebelumnya aku pergi hanya membawa secarik kertas pemberian mendiang ayahku , kertas lusuh yang sudah tak serapih dulu , kertas yang bertuliskan namaku . Hanya itu . "Tanpa keterangan lain ?" Tanyanya kemudian, meretas kesunyian yang sedari tadi menyelimuti kami ."Tidak, hanya itu"
"Lalu ... dimana orang tuamu?" Lanjutnya , "Ayahku sudah tiada dan aku tidak tau dimana ibuku" Balasku. Sejak itu aku mulai tahu bahwa aku hidup bukan untuk orang lain , dan aku bertahan hidup bukan untuk mereka . Aku , ya aku... Hanya aku bukan untuk siapapun , terkadang 'yang terdekat yang menikam' .
Agustus
Aku menciumnya lagi , aroma itu . Busuk sangat busuk . Kuperkirakan sudah tidak segar lagi . Ku susuri lorong asrama dini hari ini , rasa penasaran itu justru timbul kembali ketika aku tahu Damian jarang mem-bully-ku kembali akhir - akhir ini . Ya , Damian . Dia adalah seorang yang paling menjengkelkan yang pernah kutemui selama aku tinggal di asrama, dia adalah satu-satunya yang sering mengejekku dengan perkataannya yang tidak berperikemanusiaan . Maka wajar jika kini aroma busuk tubuhnya yang menjalar ini tercium , aku fikir ini adalah balasan yang paling pantas untuknya. "Hmm..." Tak perlu banyak tindakan dia akhirnya meninggalkan kami semua.
Pagi harinya Nyonya Yan memanggilku keruangannya , aku sudah tahu maka dari itu aku sudah mempersiapkan diriku sedari tadi , Cklek ku kunci pintu kamarku rapat tak membiarkan siapapun masuk kedalamnya tanpa seizinku . Santai saja , aku berjalan begitu santai seolah tidak pernah terjadi apapun disini , meskipun kini semua mata memandangku tajam . Sayup-sayup aku mendengar "Eve membunuhnya!!" Dan itu membuat desir darahku naik ke atas kepalaku , "Urusi saja urusanmu , setelah itu baru kau urusi hidupku!!" Gumamku dalam hati dan kuperkirakan hanya ada aku dan tuhan yang mendengar.
Tok...tok...
Kubuka pintu ruangan Nyonya Yan perlahan , membiarkan yang lain melihatku . Hening tercipta , tak kuhiraukan kemudian kududukkan tubuhku di sebuah kursi yang berada dihadapan Nyonya Yan . "Eve..." Panggilnya lembut , "Ya Nyonya Yan ?" , "Damian telah terbunuh dan beberapa anak melihatmu ditempat kejadian sekitar pukul 2 pagi" Lanjutnya kembali , " Ya , aku mencium bau busuk kemudian aku mencarinya dan aku menemukannya " Balasku seadanya , kulihat raut wajah Nyonya Yan berubah pucat ketakutan dan aku membenci itu . "Damian meninggal dengan kepala yang tertanam didalam tanah" Ucapnya lirih , " Aku tahu " ,
"Dan Eve... Sehari sebelum Damian meninggal dia bersamamu di taman belakang ketika kalian ditugaskan menanam pohon olehku" Lanjutnya . "Apa kau menuduhku membunuhnya?" Tanyaku akhirnya , dia mengangguk dengan wajah pucatnya "Setidaknya ini kasus yang kedua , dan kau ada saat itu..." ," Aku memang tidak menyukai Damian" Potongku , "Mengapa?" , "Karena aku membencinya , setiap orang yang kubenci akan mendapatkan pelajarannya . Tapi , bukan aku pelakunya" Tegasku . Nyonya Yan tampak berfikir , "Aku tahu, anak berusia 9 tahun tidak mungkin melakukan hal semacam ini" Ucapnya "Tapi... Anak 9 tahun cukup matang untuk berbohong mengenai sesuatu hal" Lanjutnya lagi.
P.S : Jangan berfikir cerita diatas hasil Copy-Paste dari sumber lain , cerita diatas fiktif dan murni hasil karangan Resi . Semoga bermanfaat dan mohon kritik juga sarannya . Terimakasih .
Minggu, 23 Agustus 2015
NAHA GARUT DISEBAT 'GARUT' ?

Langganan:
Komentar (Atom)



